Wawancara 5: Katolik

Kelompok 2

Dosen: Dalmeri (D5049)
Kelas: LB-02
Anggota hadir:
1. Melvin Ismanto (2001541296)
2. Bravio Pranatta (2001594125)
3. Ignasius Raffael Santoso (2001562962)
4. Rivaldi Gunarso (2001545180)
5. Michael Jihanda (2001542456)
Anggota tidak hadir:
1. Kevin Dewabroto (1901521513)
2. Mircaesariko (1901521545)
3. Fadhilah N.P. (1901529270)

Agama: Katolik
Tanggal: 24 November 2017
Waktu: 15:45 PM - 16:30 PM
Lokasi: Gereja St. Gregorius Agung, Kutabumi, Jl. Mutiara 1, Kuta Jaya, PasarKemis, Tangerang, Banten 15560, Indonesia
Pembicara: Romo Sony

Pertanyaan utama:
1. Menurut bapak hubungan antar umat beragama di indonesia sekarang seperti apa?
2. Bagaimana cara agama bapak (agama X) menjaga kerukunan antar umat beragama?
3. Apakah kewajiban kita sebagai warga negara yang berpendidikan untuk meningkatkan rasa kebersamaan antar umat beragama?
4. Adakah pesan atau kesan dari bapak yang ingin disampaikan untuk umat di Indonesia sebagai umat beragama?
5. menurut bapak, sebenarnya apa itu agama?
6. faktor apa saja yang menyebabkan ketidakharmonisan antar umat beragama
7. adakah kekurangan dalam beragama, dan kelebihan dalam menjadi ateis? (tidak memiliki kepercayaan)
8. mengapa banyak konflik di dunia yang didasarkan atas agama? apakah agama pemicu dari konflik" tersebut?

Transcript:
Q: Menurut romo, kondisi keakraban di Indonesia sekarang ini bagaimana yah? Apakah kita saling toleransi apa tidak?
A: Kalo dari kalian sendiri sebagai mahasiswa melihatnya bagimana? Sebelum saya jawab.
Q: Sebenernya sih sudah baik, tapi ada beberapa kelompok yang menggunakan unsur SARA untuk politik dan segala macam.
A: Kalau saya memisahkan jadi dua, toleransi global dan lokal. Yang global, memang harus diakui banyak keprihatinan di negara kita. Ketika banyak orang tidak mendapatkan kesempatan yang sama, itu kan tetap menjadi keprihatinan. Bicara toleransi kan tidak agama saja. Kalian konteksnya agama atau yang lain-lain juga?
Q: Kita lebih ke agama.
A: Ya, dalam konteks agama, tidak semua orang mendapat kesempatan yang sama. Hanya saja di dalam praktek dan implementasi dan aplikasinya, dan segala pelaksanaannya tidak sesuai dengan yang diharapakan. Ada undang-udangnya, ada peraturannya, menteri agama dan macam-macamnya. Tetapi ketika banyak kepentingan masuk, akhirnya menjadi biased apa yang menjadi tujuan dan apa yang menjadi ketetapan bersama. Lalu yang lain, kalau bicara toleransi juga, dalam tingkat lokal, paling tidak di area sini, harusnya kalau di area sini sudah bagus. Saya sangat bersyukur dengan umat disini tidak hanya bisa bergaul dengan orang-orang sekitarnya bahkan juga bisa bersahabat dengan kiai dan siapapun kanan kirinya. Sehingga ngomong apa-apa juga mudah. Paling kalau ada gesekan sana sini lebih ke pada persoalan yang bukan agama tetapi kemudian digoreng menjadi permasalahan agama. Misalnya masalah ketertiban, ada gangguan kecil lalu dikait-kaitkan ini dari agama mana. Pada umumnya sih baik, dari yang saya lihat.

Q: Menurut romo, sebenernya tugas (tujuan) agama itu apa, dalam hal kebersamaan antara umat?
A: Apa ajaran utama yang diajarkan dalam setiap agama? Agama kristen mengajarkan ajaran apa?
Q: Kasih sayang.
A: Agama kristen mengajarkan kasih sayang. Agama buddha mengajarkan apa? Keutamaan, kasih sayang, belah kasih, kesempurnaan hidup dan kebahagiaan. Tidak hanya kebahagiaan untuk diri sendiri tetapi juga kebahagiaan untuk orang lain meskipun manusia menderita tetapi pada akhirnya manusa tetap berjalan pada kebahagiaan. Nah tugas agama, ajarannya sih sudah sangat baik, menjunjung tinggi cinta kasih, perhatiaan terhadap sesama, toleransi dan macam-macam. Nah, kalau bicara tentang agama sebagai pemeluk, tugas teman-teman sebagai pemeluk misalkan, yah diamalkan apa yang menjadi ajaran-ajaran agama, tidak semeta-metanya ajaran agama bertentangan, tidak ada ajaran agama yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dihayati di dalam masyarakat pancasila misalnya. Yah agama kristen misalnya, bicara soal cinta kasih kan juga bicara tentang pancasila. Toleransi dalam sila pertama, lalu persatuan indonesia, lalu keadilan sosial dan macam-macam. Agama buddha juga semuanya bisa berjalan seiringan. Nilai-nilai yang menjadi landasan negara dan ajaran agama bisa berjalan seiringan. Sebagai pemeluk lagi-lagi yah tugasnya bagaimana mewujudkan itu semua dengan sebaik mungkin. Nah agama sebagai sebuah lembaga, tugasnya yah mencoba mengarahkan umatnya, mereka yang ada di agama itu diarahkan bagaimana supaya nilai-nilai yang ada ini bisa wujud, bisa jalan di dalam koridornya, bisa tercipta di dalam kehidupan nyata. Tugas pemimpin agama yang menyuarakan yang baik, bukan menyuarakan provokasi. Bukan menyuarakan hal-hal yang bertentangan. Kalau bahkan terjadi provokasi coba dilihat bersama, mengajak duduk bersama, menyelesaikan berbagai macam persoalan dengan kacamat yang lebih luas dibanding kacamata yang sempit. Itu tugas agama yah, tiga hal. Sebagai pemeluk, lembaga, dan sebagai pemimpin agama.

Q: kalau begitu kenapa masih ada banyak masalah yang faktornya itu karena agama, padahal sebenarnya kan kita punya tujuan yang sama, untuk kebahagiaan dan sebagainya?
A: Dari sisi ajaran tidak ada yang salah. Ajaran agama selalu mengajar yang baik. Kenapa terjadi seperti itu. Yah, teman-teman menyadari sendiri di dalam perjalanan waktu, agama akhirnya pecah-pecah. Semua orang punya kemampuan/hak untuk menafsirkan agamanya sendiri. Ada yang masih sejalan, tetapi juga penghayatan orang akhirnya berbeda-beda. Dan inilah yang kita sesalkan ketika ajaran agama ditafsirkan tidak berdasarkan konteks umum, hanya berdasarkan konteks masa lalunya saja. Tetapi tidak mengkomplitkan dengan ajaran-ajaran yang sekarang, penghayatannya menjadi sempit. Lalu yang lain, kenapa bisa terjadi seperti itu? Yah akhirnya harus disadari ruang perjumpaan kita semakin terbatas. Perjumpaan seperti apa, teman-teman tinggal di kompleks-kompleks mana, boleh tau gk?
Q: Gading serpong, BSD, perumahan Budi Indah Daan Mogot.
A: Dalam komplek-komplek itu, kapan kalian berjumpa dengan tetangga kamu? Gaada yah. Yang di dalam komplek bermacam-macam agama yah. Kalau ada bermacam-macam disyukuri, masih ada ruang untuk berjumpa. Ketika ada ruang berjumpa semacam lapangan misalnya atau pos RW atau ruang semacam hall apapun, orang dalam berbagai macam agama bisa kumpul. Kita lihat di komplek-komplek besar di kota-kota besar, orang berdoanya dimana? Di jalanan. Anak mainnya di jalanan. Tempat paling efektif untuk kumpul dimana? Satu-satunya halaman yang luas adalah tempat ibadah. Tempat ibadah hanya menampung, kalau orang tidak biasa, orang yang begitu-begitu saja. Dengan mudahnya akhirnya didoktrin yang bermacam-macam. Tempat berjumpa semakin berkurang. Ketika ada lapangan di sebuah komplek, dan fasumnya (fasilitas umum) semua orang kan bisa menikmati. Kalau disini, sepertinya fasumnya sudah berubah. Di kotabumi ini fasumnya semuanya sudah berubah menjadi tempat ibadah. Akhirnya orang tidak bisa berkumpul. Yang tahu hanyalah pemahaman-pemahaman yang begitu-begitu saja, dan dengan mudah dibelokkan. Itu yang menjadi, kalau saya lihat, beda dengan mungkin orang tua kalian. Ada yang dari kampung-kampung, berkumpul tuh, bisa dengan mudahnya tidak melihat kamu apa agamnya, kamu darimana asalnya. Semua orang ngumpul main-main aja. Ngumpul ngobrol enak-enak aja. Tidak ada pikiran apapun. Ketika jarak dari Tangerang ke Jakarta sudah mulai sulit, sudah mulai jauh, ketemu tetangga sekarang ini juga sudah susah. Yang ada hanyalah curiga, wah dia bikin apa nih. Mudah diprovokasi.

Q: Kalau begitu, apakah dorongan untuk tidak beragama? Apa yang membuat orang menomorduakan agama?
A: Pertanyaan ini kamu dapat darimana? Adakah data yang menunjukkan bahwa ada orang yang memang memilih untuk tidak beragama?
Q: Dari saudara saya.
A: Memilih untuk tidak beragama, kita tidak bisa menjawab A B atau C. Kalu dari sisi orangnya, mereka akan menyalahkan agamanya. Wah, agamanya banyak peraturan, dikit-dikit diatur dan macam-macam. Dan dari sudut pandang lain, orang mungkin melihat sudah terlalu skeptis dengan agamanya karena dia melihat kekecewaan entah dengan rekan-rekan seagamanya atau dengan pemeluk agamanya atau dengan sebuah peristiwa yang membuat dia kecewa dengan agamanya. Tetapi saya tidak yakin ada orang yang sungguh sungguh bertahan untuk tidak beragama. Ada, tetapi hati kecil pasti akan merasa kosong. Tidak ada agama, kamu tidak punya pengangan apapun. Paling tidak menurut apa yang saya yakini. Dan yang dilihat mungkin hanyalah formalisme. Agama hanya dilihat sisi formalnya saja, sehingga orang tidak memilih agama.

Q: Sebenarnya agama itu kan hanya suatu keyakinan, apa yang kita yakini menjadi agama. Kalau menurut pandangan romo, bagaiman orang yang merasa tidak nyaman dengan agama yang ada, jadi dia punya pandangan sendiri. Dia percaya akan adanya Tuhan, tetapi tidak mau mengikuti agama yang sudah ada. Dia mengikuti apa yang dia yakini benar (Agnostik).
A: Ini yang tadi saya katakan, pada akhirnya ada orang yang punya keyakinan agama, tetapi tidak mau masuk kedalam lembaga tertentu. "Yang penting saya berdoa dalam Tuhan. Yang penting saya doa dan saya tidak ganggu orang lain. Itu sudah cukup buat saya." Ada orang yang punya keyakinan seperti itu. Tetapi kamu tanya kenapa yah, tanggapan saya soal itu. Yah lagi-lagi, saya masih melihat bahwa agama adalah sesuatu yang privat bagi orang itu. Agama adalah urusan saya dengan Tuhan saya. Jadi tidak perlu repot-repot dengan orang lain. Penglihatan orangnya hanya sebatas iman saya dengan Tuhan. Tapi kalau dilihat dengan luas, paling tidak menurut agama yang saya yakini, keyakinan dengan Tuhan tidak hanya sebatas pada urusan saya dengan Tuhan. Iman saya dengan Tuhan juga harus tampak dalam relasi saya dengan sesama manusia itu. Bagaimana orang bisa tau bahwa saya beriman kepada Tuhan, terlihat dari hubungan saya dengan sesama.

Q: Jadi kalau misalkan orang sudah baik, tetapi dia seperti tadi, meyakini yang dia yakini saja, kalau menurut Romo itu "tidak apa-apa" ?
A: Saya tidak mengatakan "tidak apa-apa". Saya hanya memberi tanggapan. Saya tidak mengatakan itu boleh atau tidak, ini di luar tangan saya untuk mengatakan itu. Saya hanya bertanggap bahwa dalam fenomena itu, iman hanya dilihat sebagai hubungan pribadi saya dengan yang menciptakan saya. Inilah salah satu bentsuk iman yang dihayati oleh orang tersebut. Kemungkinan seperti itu. Kan, makanya saya bertanya, kenapa ada orang yang tidak beragama, yang kamu tanyakan tadi, bagaimana dengan orang yang tidak beragama, saya lihat dulu datanya ada berapa. Di Indonesia mengenal apa yang disebut dengan aliran Kepercayaan. Dianggap tidak beragama, tetapi dicari dulu agama itu apa. Apa yang dimaksud dengan agama. Di Indonesia hanya mengenal 6 jenis agama. Di negara-negara lain masih banyak agama-agama lain. Mungkin saja aliran "Kepercayaan" bisa dikategorikan sebagai aliran agama di tempat lain. Kita bisa mengatakan orang ini tidak beragama, tetapi berkepercayaan kepada Tuhan, mungkin saja karena kita memang sudah terbentuk di dalam frame kita, yang disebut dengan agama adalah Katolik, Kristen, Buddha, Hindu, Islam. Inilah agama. yang lain, mau disebut apa? Mereka juga percaya kepada Tuhan, mereka juga punya jemaat, mereka juga punya kelompok. Kita juga harus mengakui kalau ini itu juga bentuk agama. Paling tidak di dalam gereja Katolik, Katolik yang kita tahu kan hanya katolik Roma yang sampai di Indonesia. Tapi di luar sana juga ada banyak berbagai macam katolik.

Q: Balik lagi ke toleransi, sebenarnya tugas Romo itu apa sebagai pemimpin? Apa yang romo lakukan biar umat romo lebih toleransi, lebih sayang sesama?
A: Tugas saya sebagai imam, seperti yang sudah saya sampaikan tadi, tugas saya adalah, saya punya peran untuk mewujudkan agama saya menjadi nyata dan sungguh-sungguh bisa dihayati dalam kehidupan umat sehari-hari. Tugas saya sebagai pengikut, ajaran saya dihayati oleh umat saya dengan sebaik mungkin. Peran saya adalah tidak hanya mengatakan yang baik-baik. Dalam hal toleransi, tentu saja saya punya peran untuk mendorong, ayo keterlibatan saya bersama dengan agama-agama lain. Entah dalam kegiatan sosial, entah dalam kegiatan kemasyarakatan, entah dalam sikap hidup yang lain. Tidak hanya sibuk dengan urusan gereja saja, tetapi juga mau bergabung dengan saya sebagai bagian dari warga negara juga.

Q: Ada pesan untuk kita sebagai negara Indonesia yang bergama untuk menjaga toleransi di Indonesia?
A: Kalau pesannya, yah wujudkanlah ajaran agama yang begitu luhur, begitu indah, dengan sebaik-baiknya. Kalau ajaran agama mengajarkan cinta kasih dan macam-macam itu yang berkaitan dengannya, tampilkanlah itu dalam kehidupan kalian sehari-hari yang nyata. Lalu yang kedua karena kalian sebagai mahasiswa, di kedepan kemudian hari, kalau punya kesempatan, buatlah sebanyak-banyaknya ruang-ruang publik sehingga memungkinkan banyak orang untuk bisa berkumpul. Apa yang dibuat oleh gubernur sebelumnya, membuat ruang terbuka hijau - RPTRA, kalau dilihat dengan baik, arahnya bukan hanya membuat taman-taman saja, tetapi arahnya juga membuat banyak orang semakin bisa kumpul bareng tanpa dibatasi dengan sekat-sekat agama. Nanti kalau kalian kerja, terlibat dengan CSR itu, mintalah dana-dana untuk membuat semacam itu. Kalau di perumahan ada fasum, yah manfaatkanlah fasum itu untuk kegiatan-kegiatan itu. Bukan dibuat untuk yang lain-lain itu.

Q: Di agama saya kan diajarkan tentang karma, tapi kalau misalnya di agama katolik, misalnya kita sudah berusaha untuk menyebarkan cinta kasih, tapi teman kita masih menentang atau melawan, di katolik apa yang diajarkan untuk menghadapi orang yang menindas? Kita sebagai orang yang sudah berusaha harus bagaimana?
A: Di katolik apa yang dilakukan terhadap mereka yang menindas / jahat, yah tentu saja kita akan mengajarkan jangan langsung dibalas. Kalau di ajaran-ajaran gereja kristen, utamany akan cinta kasih. Tentu saja ada tahap-tahapnya juga. Ketika ada orang yang bersikap jahat kepada kita, itu juga bisa menjadi cerminan kepada kita, kok bisa ada orang yang berbuat jahat. Sebelum kita mengadili orang lain, kita juga bisa bertanya, kok dari sekian banyak bisa ada orang yang berbuat jahat dengan kita. Jangan-jangan kita yang kurang adil dengan sesama kita. Sikap orang terhadap kita kan juga cerminan kita terhadap perilaku kita sendiri di dalam kehidupan kita. Pertama-tama tidak langsung menghakimi, mencari celah untuk terus berkomunikasi dengan baik terhadap mereka. Gereja kristen gereja katolik sudah punya pengalaman sejarah yang panjang tentang penindasan sejarah gereja dari jaman terbentuknya dulu sampai bertahun-tahun sekarang. kan sudah berkali-kali pecah, tetapi dari pengalaman buruk itu gereja semakin dikuatkan, semakin bisa berkumpul.



Photos:


Comments

Popular posts from this blog

Wawancara 4: Buddha