Wawancara 1: Hindu
Dosen: Dalmeri (D5049)
Kelas: LB-02
Anggota hadir:
1. Melvin Ismanto (2001541296)
2. Bravio Pranatta (2001594125)
3. Ignasius Raffael Santoso (2001562962)
4. Rivaldi Gunarso (2001545180)
Anggota tidak hadir:
1. Michael Jihanda (2001542456)
2. Kevin Dewabroto (1901521513)
3. Mircaesariko (1901521545)
4. Fadhilah N.P. (1901529270)
Agama: Hindu
Tanggal: 4 November 2017
Waktu: 10:00 AM - 10:45 AM
Lokasi: Pura Parahyangan Jagat Guru, Jl. Ambon, Rw. Mekar Jaya, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, 15310, Indonesia
Pembicara: Pinandita Nyoman Wintha Waiven
Pertanyaan utama:
1. Menurut bapak hubungan antar umat beragama di indonesia sekarang seperti apa?
2. Bagaimana cara agama bapak (agama X) menjaga kerukunan antar umat beragama?
3. Apakah kewajiban kita sebagai warga negara yang berpendidikan untuk meningkatkan rasa kebersamaan antar umat beragama?
4. Adakah pesan atau kesan dari bapak yang ingin disampaikan untuk umat di Indonesia sebagai umat beragama?
5. menurut bapak, sebenarnya apa itu agama?
6. faktor apa saja yang menyebabkan ketidakharmonisan antar umat beragama
7. adakah kekurangan dalam beragama, dan kelebihan dalam menjadi ateis? (tidak memiliki kepercayaan)
8. mengapa banyak konflik di dunia yang didasarkan atas agama? apakah agama pemicu dari konflik" tersebut?
Transcript:
Q: Menurut bapak bagaimana hubungan antar umat beragama di Indonesia sekarang?
A: Kurang harmonis menurut saya.
Q: Kenapa bisa begitu ya pak?
A: Hmm.. sebenarnya begini. Saya tidak menunjuk siapa-siapa, tapi memang kenyataannya seperti itu. Sebenarnya untuk menghindari kejadian tersebut, kita harus saling memahami, jangan menyinggung keyakinan milik siapapun.
Q: Pokoknya kita saling toleransi ya pak?
A: Ya betul.. saling toleransi. Tapi kalau di Hindu sendiri sudah memiliki konsep. Apakah adik2 sudah pernah mendengar "Tri Kaya Parisudha"?
Q: Belum sih pak.
A: Tri itu artinya tiga, Tri Kaya Parisudha adalah konsep agama Hindu yang paling dasar, jadi bagaimana kita seorang Hindu berhubungan dengan Tuhan yang harmonis, berhubungan dengan sesama manusia, tidak membeda-bedakan siapa dia. Berkata dan berbuat juga jangan yang tidak-tidak kepada siapapun, apalagi antar agama.
Q: Menurut bapak, dengan keadaan Indonesia yang kurang begitu harmonis sekarang ini, adakah pihak yang disalahkan?
A: Ada suatu kelompok, mungkin kelompok yang agak "keras", tapi sih tidak banyak jumlahnya. Yang bertoleransi pun jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan kelompok yang "keras" ini. Mungkin karena mereka memiliki keberanian untuk melakukan hal semacam itu.
Q: Di Belanda, rakyat mereka tidak memeluk agama. Mengapa mereka bisa lebih rukun dibandingkan dengan rakyat Indonesia? Padahal seharusnya rakyat yang beragama harusnya lebih rukun dibandingkan dengan yang tidak memiliki agama?
A: Orang asing berkata, untuk apa ada agama. Ya sebenarnya belum tentu dia lebih baik dari saya yang beragama. Memang lebih baik berbuat baik daripada beragama, tetapi agama sendiri mengajarkan orang untuk berbuat baik. Kalau kita ingin harmonis, jangan menyinggung menyinggung kepercayaan orang lain. Misalkan adik agama Katolik, sesuaikanlah dengan ajaran adik dengan yang ada di dalam Injil dan Kitab. Kristen dan Buddha juga seperti itu. Kami di Hindu juga kalau ada ceramah, biasanya dikenal dengan khotbah, tidak pernah menyinggung agama lain. Jadi kami tenang-tenang saja, orang-orang tidak akan merasa tersinggung karena kita sendiri tidak pernah menyinggung.
Q: Sebenarnya apakah kita perlu menyinggung agama lain sebagai prasangka seperti itu?
A: Sebaiknya adik bertanya kepada orang yang bersangkutan, jangan disinggung. Misalnya sekarang ini, adik kan ingin tahu dari sumber, walaupun saya hanya mengetahui beberapa persen, itu pun juga saya hanya tahu dari pandangan agama Hindu, karena kami orang Bali. Itu kan lebih baik, daripada adik berkata, orang Hindu itu begini-begini (stereotype terhadap agama Hindu itu), itu kan tidak baik.
Q: Jadi semacam dibuat stigma ya pak?
A: Iya. Jadi lebih baik bertanya dahulu, agar terhindar dari konflik itu sendiri.
Q: Adakah kewajiban kita untuk menjaga kerukunan antar sesama umat beragama? Apa yang harus kita lakukan pak?
A: Ya itu, kita harus menghargai keyakinan orang lain. Itu kuncinya hanya itu saja. Seperti yang saya bilang tadi, misalnya adik berdoa terlebih dahulu sebelum adik pergi ke suatu tempat, kan tidak pernah disinggung. Saya sendiri kan juga tidak pernah nanya apa isi dari doa adik-adik. Buat apa saya nanya hal tersebut, toh juga hal tersebut merupakan hal yang pribadi. Agama itu hal yang pribadi sebenarnya.
Q: Harusnya pribadi ya pak?
A: Iya.. harusnya pribadi hal tersebut. Sangat pribadi.
Q: Jadi, sebenarnya salah kan jika orang menggabungkan agama dengan hal-hal lain seperti politik dsb?
A: Oh.. Jelas salah. Apalagi dengan politik. Sangat-sangat salah.
Q: Karena sudah berbeda ya pak?
A: Ya. Jadi kalau agama itu jangan diperdebatkan. Apa yang diajarkan oleh kitab, hal itu lah yang dilaksanakan.
Q: Di Hindu, apakah bapak memiliki sebuah kitab atau pedoman?
A: Ya, kitabnya Weda.
Q: Apakah bapak membaca Weda itu setiap hari? atau bagaimana?
A: Ya.. tidak setiap hari. Yang terpenting adalah yang kita lakukan sehari-hari itu. Kita membaca banyak, tetapi jika perbuatan kita tidak sesuai dengan ajaran, ya percuma juga. Contohnya, sekarang saya menonjol-nonjolkan agama saya paling bagus dan sebagainya, tetapi pelaksanaannya menyakitkan orang.
Q: Karena kan orang itu melihat dari perbuatan orang itu sendiri ya pak?
A: Betul. Maka dari itu ada "Tri Kaya Parisudha" disana. Konsep kami tuh, jangan berkata yang tidak baik, jangan berbuat yang tidak baik. Dari berpikir untuk berbuat jahat saja sudah salah, apalagi mengeluarkan kata-kata. Apalagi sampai memukul, lebih parah lagi kan? Sebenarnya "Tri Kaya Parisudha" itu sudah menjadi kuncinya. Akan aman, tidak ada permusuhan, karena kita di Pura ini dibuka untuk siapa saja. Silahkan, adik agama apapun, selama adik memiliki niat baik, silahkan masuk berkunjung. Tapi kalau tidak baik pun, saya juga tidak tahu, karena itu hal yang pribadi.
Q: Apakah bapak memiliki pesan-pesan untuk keadaan Indonesia mendatang?
A: Ini kan untuk masa depan, bersatulah kalian seperti para pendiri NKRI. Jangan pernah lupa dengan sejarah. Karena sekarang adik-adik tinggal menikmati, tinggal merawat. Nah misalnya diantara adik-adik ini tidak harmonis, kan tidak bisa membangun, pikirannya hanya berperang. Ada Sumpah Pemuda kan? Masa kita yang sudah merdeka seperti sekarang ini tercerai berai lagi?
Q: Padahal sudah dibangun dengan susah payah ya pak?
A: Iya.. sudah susah payah disatukan. Pernah mendengar Sumpah Palapa? Seperti itu. Karena kita berbeda keyakinan, rusak kan? Pokoknya, jagalah kerukunan, seperti itu saja. Bahkan dengan konsep Hindu tidak pernah bermasalah.
Q: Yang penting kita saling merangkul satu sama lain ya pak?
A: Saling merangkul, itu saja. Pokoknya jangan menyinggung antar sesama umat beragama. Kita percaya Tuhan ada berapa? Tuhan kan 1, Hindu juga Tuhan nya 1, adik-adik ini yang menciptakan siapa? Pencipta kan? Maka dari itu, adik sama saya sama kan? Kalau sama, bersaudara kan? Maka dari itu kita harus bersaudara. Mengapa ada perpecahan? Kalau memang yakin Tuhan itu ada 1, bukan banyak, harusnya saling bersaudara satu sama lain. Orang asing dan orang lain, ciptaan siapa? Tuhan juga kan? Jangan saling menyakiti. Sekarang saya sama adik. Adik punya roh? Saya juga punya roh. Coba adik tatap saya terus menerus, adik marah tidak? Marah lah, karena adik punya roh juga. Makanya kalau Hindu, ada konsep yang berkata "Tat Twam Asi", yang berarti "engkau adalah aku, dan aku adalah engkau". Kita semua adalah sama. Misalnya saya hina adik, sakit hati tidak dia? Sakit hati lah. Itu sama saja kita dengan menghina Tuhan kan? Karena adik adalah ciptaan Tuhan. Tanpa kita hina pun, dia sudah merasa terhina. Apalagi kita hina, apakah tidak lebih sakit? Apalagi kalau sampai ke fisik. Kita juga ada yang namanya "Karmaphala". Pokoknya hindari lah hal-hal yang bersifat negatif itu.
Q: [Pertanyaan Pribadi] Apa yang ada di dahi bapak itu?
A: Kan di dunia ada berkat, hal yang ada di dahi saya ini (beras) adalah salah satu berkat kita. Ada yang kita telan/makan, ada 3 yang utuh.
Q: Di Bali kan suka ada sesajen ya pak? Apa sebenarnya fungsi dari sesajen itu pak?
A: Misalnya kita berdoa untuk memohon berkat dari Tuhan. Kita pasti juga sisihkan sebagian pendapatan yang kita dapat per bulan sekian persennya. Untuk per hari nya, sebelum kita makan, kita harus mensyukuri pemberian Tuhan tersebut dengan wujud sesajen itu.
Q: Sebagai rasa terima kasih kepada Tuhan itu sendiri ya pak?
A: Iya. Jadi istilahnya kita memakan sisa berkat dari Tuhan, karena kita persembahkan terlebih dahulu, baru kita memakannya. "Sadhuwika", jadi setiap makanan yang sudah kita persembahkan, kita makan setelahnya. Apa itu simbol bunga? Untuk apa itu? Itu maknanya adalah kasih.
Q: Terima kasih bapak sudah sharing-sharing.
A: Sama-sama nak.
Video: https://www.youtube.com/watch?v=md97xAjCG2A




Comments
Post a Comment