Wawancara 4: Buddha
Kelompok 2
Dosen: Dalmeri (D5049)
Kelas: LB-02
Anggota hadir:
1. Bravio Pranatta (2001594125)
Anggota tidak hadir:
1. Melvin Ismanto (2001541296)
2. Ignasius Raffael Santoso (2001562962)
3. Rivaldi Gunarso (2001545180)
4. Michael Jihanda (2001542456)
5. Kevin Dewabroto (1901521513)
6. Mircaesariko (1901521545)
7. Fadhilah N.P. (1901529270)
Agama: Buddha
Tanggal: 12 November 2017
Waktu: 6:10 AM - 6:30 AM
Lokasi: Pusdiklat Buddhis Sikkhadama Santibhumi, Jl. Danau Toba No.57, Lengkong Gudang, Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten 15310
Pembicara: Upāsaka pengurus pusdiklat, Steven Mulia Dharma (Pabhassaro)
Pertanyaan utama:
1. Menurut bapak hubungan antar umat beragama di indonesia sekarang seperti apa?
2. Bagaimana cara agama bapak (agama X) menjaga kerukunan antar umat beragama?
3. Apakah kewajiban kita sebagai warga negara yang berpendidikan untuk meningkatkan rasa kebersamaan antar umat beragama?
4. Adakah pesan atau kesan dari bapak yang ingin disampaikan untuk umat di Indonesia sebagai umat beragama?
5. menurut bapak, sebenarnya apa itu agama?
6. faktor apa saja yang menyebabkan ketidakharmonisan antar umat beragama
7. adakah kekurangan dalam beragama, dan kelebihan dalam menjadi ateis? (tidak memiliki kepercayaan)
8. mengapa banyak konflik di dunia yang didasarkan atas agama? apakah agama pemicu dari konflik" tersebut?
Transkrip:
Q: Menurut bapak hubungan antar umat beragama di Indonesia seperti apa?
A: Kondisi umat beragama di Indonesia cukup baik, dengan toleransi yang
cukup besar, dengan konflik-konflik yang ada diluar, misalnya seperti kasus rohingnya dan kasus-kasus yang lain tapi umat beragama di Indonesia tetap solid, tetap menghargai umat beragama yang lain.
Q: Dalam agama bapak, Apakah ada cara sesama dan antar agama untuk menjaga kerukunan satu sama lain?
A: Di agama Buddhis diajarkan tentang cinta kasih terhadap semua makhluk
hidup. Kita tidak boleh membenci oleh karena itu sebenarnya dipraktekan tidak cuma untuk semua umat Buddhis, tapi cinta kasih itu kita sebarkan ke semua makhluk termasuk yang beragama lain, jadi itulah cara Buddhis supaya kita menghindar dari konflik. Lalu jika ada konflik yang menyerang Buddhis, kita tidak membalas dengan kebencian, kita membalasnya dengan cinta kasih.
Q: Kita sebagai warga negara Indonesia yang beragama harus ada rasa kebersamaan antar umat beragama supaya tidak terjadi konflik, bagaimana agar kita dapat menjaga kebersamaan ini?
A: Sebagai orang yang berpendidikan juga kita sebagai warga negara, kita harus menyadari kalau di Indonesia itu tidak hanya satu agama, tapi ada beberapa banyak ajaran dan ada beberapa agama yang menyebabkan kita itu beranekaragam jadi kita harus sadar bahwa kita tidak bisa egois.
Q: Menurut bapak agama itu sebenarnya apa?
A: Agama sendiri terdiri dari dua kata, gama dan a. A itu artinya tidak, gama itu berasal dari bahasa sansakerta yang berarti kacau. Jika disatukan, agama itu artinya tidak kacau, jadi artinya agama itu sendiri membuat orang-orang didalamnya untuk tidak kacau. Ada jalan untuk menuju kebahagiaan sehingga orang itu sendiri tidak kacau.
Q: Dalam agama Buddha, apa jalan untuk tidak menuju kekacauan itu?
A: Dengan menjalankan sila, berdana, dan juga bersamadhi. Buddha juga mengajarkan tentang jalan arya berunsur delapan. Jalan berunsur delapan ini merupakan jalan tengah, tidak melukai diri sendiri tetapi juga tidak menyenangkan diri sendiri, itu jalan tengah menuju kebahagiaan dalam Buddhis.
Q: Menurut bapak, apa yang menyebabkan konflik antar umat beragama?
A: Terjadinya konflik itu sendiri karena kurangnya kebersamaan antar umat beragama dan dia menganggap agama dia yang paling benar, padahal di Indonesia banyak agama kita tidak bisa menganggap, wah agama buddhis yang paling benar, paling damai atau sebagainya. Tapi agama lain juga mengajarkan kedamaian, jadi itulah yang harus disadari kalau agama lain juga mengajarkan kebaikan sama seperti agama kita sendiri. Sebenarnya topik yang terjadi di negara kita adalah karena terjadinya perbedaan pengertian misal pengertian dalam agama ini menganggap perbuatan ini salah tapi di agama ini perbuatan ini baik-baik saja. Tapi karena toleransi kurang kuat terjadilah konflik. Jadi kita harus menghargai aturan agama lain walaupun kita berbeda. Misal kita Buddhis tapi lingkungan kita Muslim, ya kita harus menghargai juga aturan-aturan Muslim. Misal juga di Bali mayoritas Hindu, kita harus menghargai orang-orang yang nyepi dan sebagainya. Dengan menghargai itu mereka juga akan menghargai kita misal saat kita Kathina dan Waisak.
Q: Apakah lebih baik menjadi orang yang tidak beragama, tidak percaya Tuhan tetapi tetap berbuat baik atau menjadi beragama tetapi hanya sebatas ajaran tetapi melakukan hal-hal buruk?
A: Menurut saya sendiri, ada kelebihan-kelebihan dalam menjadi ateis. Misalkan kita tidak memikirkan teori-teori agama. Kita akan lebih memikirkan perbuatan baik kita sendiri. Tetapi ada sisi buruknya juga dalam menjadi ateis bahwa kita tidak tahu perbuatan kita itu baik atau buruk dengan kita percaya dengan sosok agama maka kita akan tahu mana perbuatan baik mana yang buruk Kita bisa tahu mana perbuatan buruk kita, kita tahu perbuatan baik kita. Apa yang tidak harus dilakukan apa yang harus dilakukan. Dengan kita tahu apa yang diajarkan pemuka agama. Misal di agama Buddha, Buddha Gautama mengajarkan demikian. Dalam agama Kristiani, Yesus Kristus mengajarkan demikian. Jadi ada plus minus menjadi ateis atau tidak. Menurut saya pribadi, saya lebih mendukung orang yang beragama karena dia tahu apa yang baik untuk dia dan apa yang harus dilakukan dibanding ateis yang melakukan apa yang menurut dia baik tapi belum tentu baik untuk orang lain.
Q: Di dunia banyak konflik agama, menurut bapak pemicu konflik di dunia ini sebenarnya apa?
A: Sebenarnya pengertian dalam agama sendiri baik, misal dalam Muslim tidak akan mengajarkan tentang keburukan. Tetapi ISIS itu sendiri yang menganggap Muslim itu seperti apa. Lalu contoh lain dalam Buddhism Rohingnya. Buddhis di Rohingnya menganggap Muslim itu jahat segala macam, padahal Buddha Gautama sendiri tidak menganggap bahwa agama itu jahat, tidak membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan. Kita tidak dapat memandang sebelah mata. Tidak dapat memandang misal Buddhis di Myanmar itu sama dengan Budhhis lain. Itulah yang menyebabkan konflik di dunia karena pengertian yang berbeda-beda. Sebenarnya agama asli itu sendiri tidak mengajarkan kejahatan. Pengertian yang salah itu yang menyebabkan konflik.
Q: Apakah bapak ada pesan dan kesan terhadap umat beragama di Indonesia?
A: Pesan untuk umat beragama di Indonesia, kita harus menyadari kalau kita beragama itu tidak sendiri. Kita punya teman-teman kita yang lain. Misalnya saya di Buddhis, saya punya teman-teman di Kristen, di Katolik, di Konghucu, di Islam, dan kita semua tidak bisa menganggap bahwa agama kita paling benar, kita semua punya agama, kita berbuat baik, kita majukan negara Indonesia ini dengan bersama-sama tidak bisa sendiri. Jadi negara Indonesia ini bukan negara Buddhis, bukan negara Islam, bukan negara Kristen, bukan negara Hindu, bukan negara yang lain, tetapi kita negara Indonesia adalah negara yang beranekaragam itulah pesan yang saya ingin saya sampaikan.
Video: https://www.youtube.com/watch?v=K3zkq-tLCiY
Photos:

Comments
Post a Comment